Aku tak tahu
harus memulai cerita ini darimana, akupun juga tak tahu kenapa sekarang aku
sedang menulis cerita ini dan kalian sedang membacanya, aku hanya ingin berbagi
cerita, ceritaku, dengan dia, akupun sebenarnya juga tak tahu ceritaku dan dia
kapan dimulai, tapi aku merasakannya saat ini. Kau tau hubungan jarak jauh?
Hubungan antara kalian dengan kekasih kalian yang dipisahkan oleh jarak.
Tunggu, tapi aku dan dia tidak sedang menjalani sebuah ikatan yang sering
disebut dengan ‘kekasih’, lalu apa? Lagi – lagi aku pun tak tahu. Aku hanya
menyadari perasaanku ini setelah 3 tahun aku mengenalnya, dari yang suka
bercanda tentang berbagai hal yang tak jelas, sampai ke beberapa topik yang
serius, kami pun tak pernah membicarakan tentang hubungan kami ini apa, tapi
tiba – tiba saja perasaan itu datang. Aku juga tak tahu kapan perasaan itu
sebenarnya datang, tapi dari hari ke hari, aku sering menunggu BBM dari dia,
lelucon – lelucon lucu dari dia yang sering membuatku tertawa. Apa hal itu yang
membuatku menaruh hati padanya? Yang bisa membuat hari – hari ku berwarna
dengan lelucon – lelucon kecilnya? Jujur saja, dia tidak tinggi, tidak putih,
tidak begitu tampan layaknya idol – idol korea yang sedang ku kagumi, juga
tidak memiliki badan yang bisa dibilang tidak ideal. Tapi bagaimana aku bisa
menaruh hati kepada orang ini? Benar, lagi – lagi jawabannya aku tak tahu. Apakah
ini yang dinamakan “cinta tak butuh
alasan”? Dan yang lebih parah kawan, aku tak pernah melihat wajahnya secara
langsung, aku tak pernah bertatap muka dengannya, aku belum pernah bertemu
dengannya, karena apa? Karena dia berada dikota yang berbeda denganku. “Kamu ngga salah? Suka sama orang yang belum
pernah kamu temuin sebelumnya?” yes, pertanyaan ini sering sekali aku
dengar dari mulut teman –temanku. Mungkin aku jatuh cinta terhadap
kepribadiannya? Cara dia yang bisa membuatku tertawa setiap kita berbincang?
Atau mungkin hal – hal kecil lainnya yang tidak kalian lihat darinya. Tapi,
mungkin jarak yang membuat kita semakin susah, walau hubungan kita semakin dekat, bahkan kadang
sering kita saling memberi ‘sinyal’, tapi aku masih sering bertanya, apakah itu
benar untukku? Apa aku yang terlalu percaya diri? Aku tak tahu, semua masih terasa
abu – abu dimataku. Sering juga aku berpikir, apabila nanti aku dengan dia benar
– benar diberikan jalan untuk bersama apakah ini akan baik untuknya? Apakah
akan baik untukku? Dengan jarak kita yang seperti ini? Aku tahu, dia tinggal di
kota metropolitan, teman – temannya pun mungkin bisa dengan mudah didepannya
membawa kekasihnya kesana kemari, sedangkan kalau dia bersamaku? Apa dia mampu
tidak menghiraukan itu semua? Apa dia siap? Apa dia bisa menjaga hatinya hanya
untukku? Jika memang hal ini dirasakan olehnya apakah mungkin hal ini yang menjadi
pertimbangannya selama ini? Yang
menjadikan semua di antara kita masih terlihat abu – abu?