Sunday, November 23, 2014

Abu – Abu



            Aku tak tahu harus memulai cerita ini darimana, akupun juga tak tahu kenapa sekarang aku sedang menulis cerita ini dan kalian sedang membacanya, aku hanya ingin berbagi cerita, ceritaku, dengan dia, akupun sebenarnya juga tak tahu ceritaku dan dia kapan dimulai, tapi aku merasakannya saat ini. Kau tau hubungan jarak jauh? Hubungan antara kalian dengan kekasih kalian yang dipisahkan oleh jarak. Tunggu, tapi aku dan dia tidak sedang menjalani sebuah ikatan yang sering disebut dengan ‘kekasih’, lalu apa? Lagi – lagi aku pun tak tahu. Aku hanya menyadari perasaanku ini setelah 3 tahun aku mengenalnya, dari yang suka bercanda tentang berbagai hal yang tak jelas, sampai ke beberapa topik yang serius, kami pun tak pernah membicarakan tentang hubungan kami ini apa, tapi tiba – tiba saja perasaan itu datang. Aku juga tak tahu kapan perasaan itu sebenarnya datang, tapi dari hari ke hari, aku sering menunggu BBM dari dia, lelucon – lelucon lucu dari dia yang sering membuatku tertawa. Apa hal itu yang membuatku menaruh hati padanya? Yang bisa membuat hari – hari ku berwarna dengan lelucon – lelucon kecilnya? Jujur saja, dia tidak tinggi, tidak putih, tidak begitu tampan layaknya idol – idol korea yang sedang ku kagumi, juga tidak memiliki badan yang bisa dibilang tidak ideal. Tapi bagaimana aku bisa menaruh hati kepada orang ini? Benar, lagi – lagi jawabannya aku tak tahu. Apakah ini yang dinamakan “cinta tak butuh alasan”? Dan yang lebih parah kawan, aku tak pernah melihat wajahnya secara langsung, aku tak pernah bertatap muka dengannya, aku belum pernah bertemu dengannya, karena apa? Karena dia berada dikota yang berbeda denganku. “Kamu ngga salah? Suka sama orang yang belum pernah kamu temuin sebelumnya?” yes, pertanyaan ini sering sekali aku dengar dari mulut teman –temanku. Mungkin aku jatuh cinta terhadap kepribadiannya? Cara dia yang bisa membuatku tertawa setiap kita berbincang? Atau mungkin hal – hal kecil lainnya yang tidak kalian lihat darinya. Tapi, mungkin jarak yang membuat kita semakin susah, walau hubungan kita semakin dekat, bahkan kadang sering kita saling memberi ‘sinyal’, tapi aku masih sering bertanya, apakah itu benar untukku? Apa aku yang terlalu percaya diri? Aku tak tahu, semua masih terasa abu – abu dimataku. Sering juga aku berpikir, apabila nanti aku dengan dia benar – benar diberikan jalan untuk bersama apakah ini akan baik untuknya? Apakah akan baik untukku? Dengan jarak kita yang seperti ini? Aku tahu, dia tinggal di kota metropolitan, teman – temannya pun mungkin bisa dengan mudah didepannya membawa kekasihnya kesana kemari, sedangkan kalau dia bersamaku? Apa dia mampu tidak menghiraukan itu semua? Apa dia siap? Apa dia bisa menjaga hatinya hanya untukku? Jika memang hal ini dirasakan olehnya apakah mungkin hal ini yang menjadi pertimbangannya selama ini?  Yang menjadikan semua di antara kita masih terlihat abu – abu?